Benarkah Kalian Pahlawan?

muhammad afifudin

Oleh : Muhammad Afifudin

(Sebuah Kontemplasi Bagi Tenaga Pendidik yang Berstatus Aparatur Sipil Negara)

… Tengok guru-guru di madrasah diniyah, tanya gajinya berapa, di sekolah diniyah, kalau kalian (tenaga pendidik yang berstatus ASN) menjadi guru mendapatkan imbalan maka bersyukurlah dengan mendidik sebaik-baiknya karena banyak guru sekolah diniyah memang gak ada gaji atau adapun sangat kecil sekali, padahal mereka punya anak dan istri, sama seperti guru-guru (tenaga pendidik yang berstatus ASN) di sekolah umum …

Pendidikan di negara ini merupakan makanan pokok yg harus ada, sekolahan berjajar-jajar di setiap tempat seperti persaingan, menghadirkan menu-menu pendidikan yg berbeda di setiap warung-warung pendidikan yg ada. Tapi satu, apa menu utama yg di sajikan ? Jaman dulu yang pasti ada adalah menjadikan siswa yg budiman, berakhlak luhur. Kalau sekarang yang pasti ada justru menjadikan siswa yg berprestasi. Lha emang salah to menjadikan siswa yg berprestasi? Ya nggak, gak salah, cuma jangan jadi menu utama.

Sekarang pikir, apa guna orang cerdas tapi akalnya rusak. Akankah kalian mencetak calon-calon koruptor, tapi ya jangan bilang apa guna berakhlak bagus tapi prestasi nol, cetaklah murid yg berakhlak bagus dan berprestasi, bukannya berprestasi dan berakhlak bagus. Tengok saja kenyataan di era modern ini, akhlak begitu tak di perhatikan, yang penting ulangan dapat nilai sepuluh.

Saya heran dengan berita-berita waktu lalu di mana guru sampai masuk persidangan gara-gara dituntut orang tua atas pidana kekerasan mencubit siswanya. Padahal saya yakin, justru itulah tanda sayangnya seorang guru pada muridnya, dan mungkin juga ia berhasil menjadi seorang guru karena kerasnya pendidikan yang ia rasakan di masa lalu. Tapi syukurlah di Trenggalek saya tak mendengar berita-berita orang tua tak bermoral seperti itu.

Kenapa sampai ada kejadian seperti itu? Ya sebab mereka dididik dengan didikan yg salah. Seperti dari awal tadi saya katakan, hal yg paling utama diajarkan pada murid itu seharusnya akhlak, diberi pelajaran tata krama, cara menghormati orang yang lebih tua, mengasihi yang lebih muda dan sesama. Bukannya guru itu, pahlawan tanpa tanda jasa yang mengajari murid agar menjadi orang yg benar dan bukan hanya pandai saja. saya yakin jika sekolahan di indonesia hal akhlakul karimah menjadi prioritas utama apalagi ditambah dengan pelajaran agama, maka tawuran tak seramai di era modern ini, begitupun dengan para koruptor.

Yang saya curigai, apakah guru-guru mendidik dengan sepenuh hati, ikhlas, dan kerja keras? Jangan berkata ikhlas, kalau gaji yang melulu diutamakan. Ikhlas itu kan bekerja dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan imbalan ganjaran bahkan gaji sekalipun. Lha terus keluarga saya mau di kasih makan apa kalau saya tak di gaji? Ya gak seperti itu, tapi jangan jadikan gaji sebagai prioritas utama dalam mengajar, yg penting kerja keras gaji gak dicari juga pasti diberikan, pemerintah gak sepelit itu bukan.

Kalau hal yang saya kawatirkan ini memang yang sedang terjadi, benarkah kalian pahlawan, yg selama ini guru disebut-sebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa? Tanpa tanda jasa gimana? Wong kalau gaji kurang protes, kalau perlu demo besar-besaran. Tengok guru-guru di madrasah diniyah, tanya gajinya berapa. Di sekolah diniyah, kalau kalian (tenaga pendidik yang berstatus ASN) menjadi guru mendapatkan imbalan maka bersyukurlah dengan mendidik sebaik-baiknya karena banyak guru sekolah diniyah memang gak ada gaji atau adapun sangat kecil sekali, padahal mereka punya anak dan istri, sama seperti guru-guru (tenaga pendidik yang berstatus ASN) di sekolah umum. Ayo dong para guru-guru, tanamkan akhlak pada murid kalian gak rugi kok saya yakin, gak rugi punya murid yang berakhlak bagus. Mana gelar kalian, tunjukkan pada dunia, jika guru memang pahlawan. Pahlawan yang tak mengharapkan jasa.

*) Penulis adalah seorang pedagang bakso yang tinggal di RT 20 RW 06 Dusun Kebonsari Desa Gondang Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek

Berita terkait...

2 Responses

  1. Restu says:

    Semua orang bekerja kalau bukan untuk cari uang, untuk cari apa???
    siapa juga yang kerja mempertaruhkan waktu & tenaga kalau bukan untuk cari uang?
    bukankah semua manusia itu butuh untuk bertahan hidup???
    Jika kita bekerja keras untuk mencari uang lebih kemudian sisanya kita sedekahkan kepada saudara yang membutuhkan, apakah itu salah???
    SEKARANG SAYA BALIK JUDULNYA.
    JIKA KITA BEKERJA BANTING TULANG KEMUDIAN KITA TIDAK MAU DIBAYAR DAN ANAK, SUAMI/ISTRI KITA TIDAK ADA YANG KASIH NAFKAH, APAKAH ITU YANG DINAMAKAN PAHLAWAN?
    CONTOH LAGI MISALNYA ABANG KERJA JUALAN BAKSO, BERANIKAH ABANG JUAL BAKSONYA GRATIS TISS???
    LALU BAGAIMANA BUAT KASIH NAFKAH ANAK ISTRI ABANG JIKA BAKSONYA GRATIS????
    APAKAH ITU PAHLAWAN???
    KESIMPULANNYA, BUKANKAH IRI, DENGKI ITU WAJAR DALAM KEHIDUPAN, TAPI JIKA KITA MAU MENSYUKURI APA YANG TELAH KITA MILIKI MAKA RASA IRI, DENGKI ITU MULAI HILANG !!! ???

  2. Restu says:

    KALAU MENURUT SAYA, “GURU ADALAH PAHLAWAN TANPA TANDA JASA” ITU ADALAH SYAIR LAGU YANG DIPOPULERKAN SEPERTI LAGU YANG BERJUDUL “HIMNE GURU”
    TIDAK ADA ORANG YANG MAU BEKERJA JIKA HANYA INGIN MENDAPAT GELAR PAHLAWAN SAJA KECUALI BELUM KEMERDEKAAN ATAU NEGARA KITA MASIH TERLALU MISKIN.
    SEANDAINYA SAYA JADI GURU, SAYA BEKERJA BUKAN HANYA KARENA LAGU ITU TAPI SAYA BEKERJA UNTUK MENGHIDUPI ANAK DAN KELUARGA SAYA.
    YANG MENCIPTAKAN LAGU ADALAH MANUSIA, TAPI TUHAN MEWAJIBKAN KITA UNTUK MENAFKAHI ANAK DAN KELUARGA KITA..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *